bagian empat_oke

Catatan Pengamat: Bagian Empat [selesai]

Catatan Pengamat atas pertunjukan
Teater baRu (7 Desember | 14.00 WIB)  
Teater Gumilar (7 Desember | 20.00 WIB)  
Teater Tema (8 Desember | 14.00 WIB)  
Teater Kummis (8 Desember | 20.00 WIB)  
Teater Fatima (9 Desember | 14.00 WIB)
Seluruh pertunjukan berlangsung di panggung Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki
oleh: Semi Ikra Anggara

Teater Gumilar

Teater Gumilar

Saya disodorkan dua pilihan dalam membaca pementasan Ibu Saya Sakit Saya Sakit Ibu dari Teater Gumilar. Pertama, saya bisa membacanya sebagai sebuah upacara yang dimulai dari luar gedung teater, lantas berlanjut ke pementasan di atas panggung; atau keduanya dibaca secara terpisah? Awalnya, saya menduga upacara itu diikuti oleh seluruh performer, membuat iring-iringan layaknya upacara dalam kepercayaan lokal kita. Tapi, ternyata, penulis lakon dan sutradara R. Mono Wangsa menukar upacara dengan bentuk yang lain lagi. Dia menggiring seorang pemain saksofon yang mengenakan sarung: sebuah tubuh hibrida antara yang lokal dan mondial.

Sepasang performer, perempuan dan lelaki (R. Mono Wangsa), duduk saling membelakangi di dua buah objek segitiga dengan pecahan cermin. Mereka bicara dengan saling membelakangi, dialog mereka berisi tentang keadaan, kemuakan: “Sudah saatnya kita berubah”—“Perubahan apalagi, hidup kita sudah enak”—“Kenapa harus ada penyeragaman”—“Gua muak lihat muka lu!”, semuanya diucapkan dengan keras, seperti hardikan. Suara yang keras itu kontras dengan seseorang yang menari di dekat mereka, bergerak dengan kelembutan. Bagaimana makna semantik dialog tadi berelasi dengan adegan di dalam gedung teater? Saksofon mengalun lagi, aktor dan penari masuk, penonton telah menjadi bagian dari upacara itu, tapi sayangnya, kepentingan administrasi mengganggu upacara yang telah juga menjadi milik penonton itu: ticketing.

Aktor perempuan dengan baju lengan panjang dan celana panjang dengan warna tua muncul dari sentrum panggung, memukul batu dengan palu, dentumannya keras dan terus menekan, mata nyalang dan puisi dengan diksi lugas keluar dari mulutnya. Aktor ini konsisten menghubungkan relasi antara kata dan tubuh, lontaran kata-katanya mantap, sebuah adegan singkat yang meyakinkan. Kali ini performativitas yang keras dibalut oleh musik blues yang mengalun, dan perlahan karakter ibu-ibu memasuki panggung dari berbagai sudut membawa penggorengan, teknik masuk yang dipertimbangkan sedemikian rupa dengan menjaga intensitas movement masing-masing aktor. Benda-benda berada dalam sentuhan defamiliar, tidak digunakan sebagaimana mestinya. Memberikan sebuah tawaran metaforik dari wilayah domestik ibu yang dalam pementasan ini seringkali digambarkan secara keras dan lugas.

Dan saat penggorengan digunakan sebagaimana mestinya pun terjadi defamiliarisasi lagi, ibu-ibu itu menggoreng batu. Semakin menguatkan narasi kekerasan dalam tubuh ibu dalam bentuknya yang tersebar. Saya kira, tema tentang ibu dalam bentuk karya seni apa pun bersifat abadi; hasilnya seringkali menggetarkan karena pengalaman personal seorang ibu memiliki hubungan langsung dengan semua orang. Gagasan dalam mencipta teater otobiografis bisa menjadi satu tawaran baru di dalam ranah teater yang menjadikan satu karakter yang jauh dari biografi seorang aktor. Setiap aktor yang menarasikan ibu faktualnya, atau yang membawakan dirinya sendiri sebagai ibu niscaya akan mempresentasikan karakter yang beragam sesusai pengalaman masing-masing.

Keberagaman, perbedaan karakter, seringkali malah tertutupi karena bahasa yang digunakan aktor tipikal bahasa puitik, plus cara pembawaannya dalam vokalisasi yang penuh tekanan. Pilihan bahasa puitik malah menjadi penyumbat bagi keberbagaian karakter yang sangat mungkin dimunculkan itu, dan keadaannya menjadi lebih gawat karena penataan lampu yang didominasi warna merah telah menyeragamkan karakter. Dalam satu adegan, keempat aktor perempuan malahan menjadi semacam depersonalisasi tokoh ibu, di saat mereka bercakap dengan satu karakter dalam pencahayaan yang lebih cerah.

Komposisi bloking dalam teater ini bisa dibilang cukup rapi, bahkan terkadang terlalu rapi. Gejolak emosi, saya kira, bisa pula direpresentasikan melalui eksplorasi tubuh yang lebih acak, chaotic, yang lebih bisa memberikan sejumlah surprise. Terkadang, membagi panggung dalam tiga objek yang berbeda, memberikan semacam pembebasan pembacaan. Namun, narasi tentang ibu cenderung menguatkan emosi kesakitan dan mengurangi emosi yang lain. Emosi kasih sayang dan kelembutan hanya terepresentasikan melalui tembang dan tarian. Sementara musik blues seperti membungkus semua narasi kekerasan dengan kelembutan yang terus mengalun.

Teater baRu

Teater baRu

Kekuatan musikal juga saya lihat dalam pementasan Uhibbuka, kata dalam bahasa arab yang berarti cinta. Ini pementasan dari Teater baRu dengan naskah dan sutradara oleh R. Tono.

Desain peristiwa pementasan ini cukup sederhana, seiring narasi yang sederhana: cinta dan kesetiaan. Pada awal adegan, musik mengalun dan seorang perempuan menyanyi di sudut panggung, dan dari nyanyian itu peristiwa digulirkan. Peran tiga perempuan dibuat ke dalam tokoh tipikal: Ning sebagai seseorang penyedih yang senantiasa menunggu kekasihnya, Dewi; perempuan dengan pergaulan bebas; dan Siti, gadis lugu yang tak pernah punya kekasih. Peran tipikal juga terdapat dalam peran dua lelaki, Reza dan Bara. Kedua tokoh ini dipresentasikan sebagai seorang playboy dan seorang yang senantiasa setia.

Peristiwa terjadi di rumah kosan. Representasi pemanggungannya sederhana. Sebuah level panjang dan dua buah ‘pilar’ kain putih. Pemanggungan yang sederhana ini membuat pemain keluar masuk logika ruang eksterior dan interior.

Ning selalu teringat kekasihnya yang entah pergi ke mana. Dia tidak memberikan hatinya pada lelaki lain meskipun Ricky telah menyatakan cintanya berkali-kali, mengikhlaskan cincin yang diniatkan sebagai lamaran hanya sebagai hadiah biasa. Relasi asmara yang dibawakan dengan intim membuat terharu. Keterharuan yang dikuatkan karena dialog seringkali dinyanyikan. Sepanjang pertunjukan, dialog bergantian antara dinyanyikan dan dibawakan secara keseharian.

Pada umumnya, aktor mampu bermain cukup mulus sesuai proporsinya, selalu siap kapan berdialog biasa kapan menyanyi. Porsi musikal terasa lebih banyak dibanding dialog biasa. Plot yang terlalu lambat kurang mampu memberikan ruang bagi setiap karakter mengembangkan dirinya padahal cerita perkara cinta segi tiga bisa memberikan kemungkinan pengembangan karakter tidak sebagai karakter yang melulu tipikal. Ekplorasi terhadap psikologi pemeranan dan teknik menyanyi, saya kira, bisa memberikan capaian lain jika Teater baRu ingin mencoba gaya teater seperti ini.

Teater Tema

Teater Tema

Berikutnya, kita melihat lagi teater yang berdasarkan naskah Arifin C. Noer. Teater Tema (sutradara: M. Djunaedi Lubis) membawakan Mega-Mega, dan Tengul dibawakan oleh Sanggar Kummis (sutradara: Aseng Komarudin). Suatu teater dengan seting masyarakat bawah di zaman Orde Baru melalui masyarakat sakit yang memimpikan hidup kaya dengan cara singkat. Dalam teater, ini direpresentasikan dengan rolet dan lotre. Penanda perjudian yang telah kehilangan kontekstualisasinya tapi, ternyata, masih bisa juga dinikmati. Pencapaian dua teater ini berbeda.

Mega-Mega dimulai dengan lambat. Pada bagian awal, stimulus dan respon antar aktor sering mengalami sendatan, kurang bisa menumbuhkan dialogi antar mereka. Gaya bermain Emak hanya tipikal sebagai nenek tua, kurang mengalami gejolak emosi sebagai gelandangan yang kesepian dan ingin punya anak. Permainan peran Retno, sebenarnya, berpotensi mendistribusikan dialog dengan baik. Dia punya kemampuan memamah teks-teksnya dengan motivasi dialog yang jelas. Sayangnya, tidak selalu berjalan mulus.

Teknik muncul seringkali kurang dipertimbangan dengan matang. Aktor-aktor muncul kurang memiliki daya gedor. Kemunculan Koyal sempat memberikan harapan sebab, memang, tokoh ini yang mengorder seluruh peristiwa mimpi-mimpi. Melalui obsesi tokoh gila peristiwa dialirkan. Tukijan, satu-satunya peran yang berusaha mempertahankan akal sehatnya, merupakan oposisi dari segala kesakitan Koyal. Sayangnya, karakternya tidak muncul, malah dia sering berada di level yang paling bawah dibanding peran-peran lain. Inilah yang menyebabkan konflik-konflik penting tidak terbangun.

Permainan imajiner dibantu dengan kotak-kotak yang diambil dari sayap pangggung. Benda-benda itu jadi terasa asing karena tidak memiliki biografis panggungnya. Saat disusun terlihat artifisial dan membatasi imajinasi tentang ruang yang diinginkan. Perjalanan imajiner dari satu tempat ke tempat lain senantiasa menggunakan pola yang hampir sama.

Pilihan unsur-unsur yang lain juga kurang begitu meyakinkan. Pohon beringan tua yang kurang terlihat teksturnya jadi pola mimesis yang meragukan. Sementara akar-akarnya tumbuh dari langit-langit panggung, jadilah pohon itu terasa aneh. Demikian pula dengan pilihan kostum yang kurang menggambarkan masyarakat jalanan itu. Pembacaan terhadap sisi interior karakter bisa membantu untuk hal ini, selain observasi dalam format yang paling sederhana. Kerja editing telah dilakukan, namun masih terasa panjang dan melelahkan.

Teater Kummis

Sanggar Kummis

Tengul versi kelompok teater Sanggar Kummis adalah Tengul yang bertenaga, memiliki daya pikat dari permainan aktor, kerja penyutradaraan yang mengatur komposisi sedemikian rupa, musik dan tata pentas.

Sejak pementasan dimulai, energi aktor-aktornya langsung menciptakan atmosfer pertunjukan yang panas, memberikan rangsangan kepada penonton untuk mengikuti adegan-adegan selanjutnya. Pendistribusian keaktoran berjalan mulus di dalam seluruh adegan. Setiap aktor berusaha keras berkontribusi menciptakan dramatika, sekecil apa pun. Kendati mereka bermain dalam komposisi grouping, mereka masih terlihat sebagai individu yang berkontribusi terhadap bangun grouping itu. Ini bisa dilihat dari kesadaran tubuh berelasi dengan tubuh lain, kesadaran musikal dan tatapan mata.

Sutradara seperti membuat karnaval di atas pentas. Strategi multilayer mengefektifkan setiap adegan di wilayah panggung bagian mana pun. Strategi multilayer yang kemudian membuat berbagai lapisan dunia: dunia keseharian Korep dan dunia fantasi. Keduanya silih berganti saling mengisi, menjadikan panggung lebih dinamis. Transisi setiap adegan dibuat dengan pertimbangan yang matang, terjadi secara wajar dengan memfungsikan benda-benda di sekitar; ember besar yang tadinya sebagai tempat makan berubah menjadi sosok jenazah yang ditutupi kain lurik.

Perubahan fungsi benda keseharian seringkali menjadi visual yang menarik. Sebuah bangku kayu panjang, yang pada awalnya difungsikan sebagai perahu dalam adegan perjalanan imajiner Korep diubah menjadi benda yang menekan saat korep dan tiga tokoh imajiner bergerak di bawah bangku kayu itu, mengelilingi pentas. Panggung dibocorkan lewat kemunculan tokoh Embah, backdrop disingkapkan memberikan satu tawaran visual dunia atas yang mistik. Pilihan kostum Embah berwarna abu-abu dan kereta berwarna abu-abu, memperlihatkan unsur rupa yang digarap serius. Sekaligus itu memberikan kontras bagi karakter-karakter dunia nyata yang cenderung menggunakan warna-warna cerah.

Apakah teater yang telah kehilangan relevansi kontekstualnya masih penting dipentaskan? Masyarakat kita sudah tidak berjudi rolet atau porkas lagi, sehingga apa makna penanda yang sudah ditinggalkan waktu itu? Sejalan dengan kerja penyutradaraan yang memaksimalkan eksekusi ruang yang mendetil, bisa kita lihat dari fungsi masing-masing adegan. Permainan aktor sepanjang pertunjukan ini memikat, seluruhnya bahu membahu membangun dramatika, tak ada motivasi yang lepas, semuanya dimamah. Tidak hanya teks tapi gestur yang eksploratif. Hanya sedikit keberatan kita di mana aktor kadang terlalu asyik bermain bodoran, tapi, itu tidak mengganggu.

Permainan aktor pemeran Korep memiliki intensitas perasaan dan vokabulari tubuh yang kaya. Dia bisa bermain mondar-mandir di keriuhan karnaval hingga kesunyian yang sublim dalam adegan imajiner. Karakternya konsisten, fokus dalam menghadapi setiap lawan main, staminanya terjaga dari awal hingga akhir pertunjukan. Tanpa kemampuan yang memadai dari peran ini, saya kira, pementasan ini tidak akan mungkin mencapai titik klimaks yang menyisakan enigma pertunjukan yang sublim. Tentu saja, itu berkat kerjasama dengan unsur lain yang sama baiknya: penyutradaraan, musik, tata artistik. Barangkali, penonton sudah tidak ingat lagi dengan rolet atau porkas yang di masa silam, tapi penonton akan terus mengingat pementasan ini karena pencapaian artistiknya.

Teater Fatimah

Teater Fatima

Teater Fatima menampilkan Golok Warna Merah Jambu karya dan sutradara Afri Rosyadi. Tata artistik yang dekoratif didominasi warna coklat muda. Sebuah ruang teve sekaligus ruang keluarga rumah itu. Peran Ibu yang bercakap dengan anak remajanya tentang persoalan remeh-temeh pemuda belia, terkadang mencuat persoalan yang lebih serius tentang kemiskinan. Percakapan dua tokoh ini begitu intim dan bisa dinikmati sampai akhirnya, sebuah adegan fatalistik menghentikan suasana keakraban tadi, berubah dalam teror sirine dan lampu merah yang menembak tak henti-henti.

Si anak meninggalkan rumah. Alasan meninggalkan rumah, ini sebenarnya masih punya peluang untuk dibikin penggawatan lagi. Pertengkaran antara suami dan istri keluar masuk antara yang sedih dan yang kocak. Menarik, memperhatikan teras rumah yang dijadikan satu fokus penting untuk mendistribusikan gejolak psikologis, setelah sebelumnya ruang ini dipakai pula oleh tokoh anak. Ruang kecil ini seperti ruang ambang psikologis antara pergi atau tetap di rumah.

Teater diakhiri dengan perkelahian tokoh suami dengan seorang polisi yang menyamar. Si suami ditembak sambil memegang golok merah jambu. Ia buron yang telah lama dicari dan tertangkap di ruang antara tadi. Pada bagian akhir ini yang sedih dan yang komikal masih tetap dipertahankan. Teater ini cukup singkat dan masih memiliki peluang untuk mengurai psikologis peran-perannya, menjadikan seluruhnya memiliki alasan yang lebih koheren dan adegan-adegan yang bisa lebih rapat tanpa harus membatalkan gagasan memainkan yang tragik dan yang komis. ***

Foto-foto oleh Dyan S. Indriyani

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *