Catatan Pengamat: Bagian Satu

Catatan Pengamat atas pertunjukan
Teater So’Profesional (1 Desember | 14.00 WIB),
Teater Manekin (1 Desember | 20.00 WIB),
Teater Nonton (2 Desember | 14.00 WIB),
Sanggar Teater Jerit (2 Desember | 20.00 WIB)
Seluruh pertunjukan berlangsung di panggung Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki
oleh: Semi Ikra Anggara

Sebuah festival teater, meskipun telah menyodorkan satu tema besar, seringkali menampilkan berbagai genre yang dalam presentasinya malah mengurai sejumlah tema-tema baru yang, terkadang, tidak senantiasa berhubungan langsung dengan tema utama. Ini bukan karena seniman peserta festival tidak mampu mengikuti tema utama, melainkan kerja dramaturgi festival nampaknya belum sanggup membingkai tema festival secara ketat. Kesulitan utamanya tak lain karena festival ini telah menentukan formatnya yang sudah laten: sebuah lomba. Tahun ini ‘tema’ malah diturunkan ‘hanya’ sebagai sebuah platform, menunjukkan terminal dari mana pekerjaan akan dibuat. Platform ‘Teater dan Cahaya’ secara konotatif mengandung makna teknikal dan substansial. Sebuah pilihan yang saya kira cukup realistis.

Esai yang saya buat dalam mengamati Festival Teater Jakarta 2015, ini berisi pengalaman-pengalaman saya menonton sejumlah 17 kelompok teater peserta. Dua hari pertama, saya menonton Ssst…! (Ikranagara) oleh Teater So’ Profesional, Istahar oleh Teater Nonton, Arwah-arwah (WB Yeats) oleh Sanggar Teater Jerit, dan Ruang Rias oleh Teater Manekin. Banyak hal yang saya rasakan setelah menonton teater-teater tersebut. Terkadang saya bahagia, kadang terharu, terkadang stres, dan kadangkala lapar. Sebuah gejala tubuh yang masih harus saya analisis lebih jauh, kenapa menonton teater bisa menguras banyak energi?

Teater Politik dan Formalisme Bahasa

TEATER SO'PROFESIONAL

Teater So’Profesional

Teater So’Profesional (sutradara: Scotlet) membawakan Ssst…! (karya Ikranagara), sebuah lakon bernuansa politik zaman Orde Baru, terutama berkaitan dengan soal kebebasan pers. Di mana, sepanjang 32 tahun perjalanan politiknya, Orde Baru telah memberedel puluhan media massa. Pada tahun 1966 Soeharto memberedel semua media massa yang diangggap berhaluan kiri. Setelah itu, hubungan antara pers dan pemerintah bisa dibilang cukup mesra sampai sekira tahun 1974 saat meletus peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari), dan puncaknya pada tahun 1994 saat tiga majalah yakni Detik, Editor, dan Tempo diberedel.

Kekuasaan tidak semata bekerja dalam kerangka hegemoni ekonomi, melainkan lebih jauh pada kerja kebudayaan, dan salah satunya adalah melalui politik bahasa. Bahasa sebagai alat paling efektif untuk mengonstruksi kenyataan menjadi signifikan dalam politik hegemoni terhadap media massa yang pada gilirannya melahirkan kebenaran tunggal. Kekuatan internalisasi politik bahasa Orde Baru bahkan jauh lebih langgeng daripada kekuatan politik praktisnya. Cara berpikir tunggal seperti pada ketakutan terhadap bahaya laten komunis adalah salah satu contoh produk Orde Baru yang melampaui kekuasaan politisnya. Abai bahwa, dalam kondisi post-media kebenaran tunggal sudah tidak mungkin lagi. Kebenaran yang koheren dan rigid adalah omong kosong.

Peristiwa teater pada pertunjukan Ssst…! dari Teater So’ Profesional dengan bahasa formal mengkritik otoritas tunggal kekuasaan (Cupak). Kekuasaan digambarkan dengan pakaian megah, seenaknya, dan agresif. Seluruh peristiwa pemanggungan diorder atas nama Cupak. Cupak menyuruh Togog mengawasi, nungging, jongkok dan lain sebagainya, sebagai representasi akan represi kekuasaan hingga pada tingkat yang paling tidak masuk akal. Cupak menjilat dulu gula-gula sebelum diberikan kepada rakyat. Bahasa rakyat harus sesuai bahasa yang diinginkan Cupak.

Di tengah otoritas kekuasaan tunggal tadi wartawan muncul sebagai suara kebenaran, kemudian seniman. Dua tokoh ini tampil sebagai sosok yang tidak berdaya dalam otoritas bahasa Cupak. Namun kemunculan dua tokoh ini seperti tidak menemui relasi kontekstualnya. Di sinilah letak persoalan utama pementasan teater ini. Selanjutnya, peristiwa bergulir berupa adegan-adegan pemberangusan wartawan, intimidasi terhadap seniman, bahkan agresi terhadap sang Dalang sebagai representasi pencipta dunia.

Sejumlah adegan ditampilkan dengan permainan siluet, sementara dialog antar tokoh dibawakan secara formal. Cara kerja komunikasi macam ini bagi saya malah menimbulkan distansi komunikasi, ketika bahasa-bahasa formal kehilangan vitalitasnya dalam ucapan aktor. Sampai akhir pertunjukan, teater ini tidak mampu membangun struktur dramatik dan atmosfer pertujukan yang utuh. Desain terhadap bahasa dalam beberapa bagian bahkan masih belum terlihat meyakinkan, di mana unsur bahasa daerah (Tegal) yang sempat dimasukkan di beberapa adegan, sesungguhnya, merupakan satu modal penting untuk menjadikan teater ini punya daya kontekstualnya. Namun itu saja tidak cukup, perlu upaya kerja dramaturgis yang lebih berani, membongkar teks lakon Ssst! hingga tingkat yang paling dalam.

Sanggar Teater Jerit [Arwah-arwah]

Sanggar Teater Jerit

Formalisme bahasa juga kita temukan dalam pementasan Sanggar Teater Jerit (sutradara: Choki Lumban Gaol), Arwah-arwah, satu lakon adaptasi Suyatna Anirun terhadap Purgatory karya WB Yeats. Justru dalam lakon adaptasi ini kita malah menyaksikan bahasa formal memiliki vitalitasnya, terutama karena aktor secara konsisten melepas dialog-dialognya dengan motivasi yang jelas. Meskipun di sebuah adegan peran ayah sempat mengalami slip tongue tapi secara keseluruhan tidak mengganggu. Tema konflik generasi antara ayah dan anak, secara leluasa membuka pintu-pintu penafsiran.

Adegan dibuka dengan warna lampu yang suram, merah darah. Musik terdengar menekan. Tokoh ayah dan anak dengan pakaian lusuh membawa karung berwarna coklat tua menambah suasana kelam semakin kuat. Tata artistik menampilkan sebuah pohon bekas terkena petir tanpa daun-daun dan sebuah puing rumah yang hanya menyisakan sepotong dinding dan jendela yang tidak utuh lagi. Ruang itu adalah rumah masa silam peran ayah, dan dari situlah seluruh peristiwa digulirkan.

Halusinasi tokoh ayah terhadap “arwah-arwah” membuka seluruh kisah yang sebelumnya dia tutup rapat-rapat: di masa mudanya si tokoh ayah telah membunuh ayahnya sendiri, seorang lelaki yang menghambur-hamburkan uang istrinya untuk mabuk, berjudi dan berzinah. Sebuah keluarga yang porak-poranda tergambar seperti menemukan konteks visualnya dalam tata artistik dan atmosfer ruang yang dibangun. Pembunuhan terhadap ayah bisa dibaca sebagai penggambaran psikologis generasi muda yang tidak puas terhadap generasi tua, situasi masa silam yang bisa terulang sekarang. Pada bagian akhir, si ayah membunuh anaknya sendiri dengan suara bergetar sambil menikam, “Ayahku dan anakku kubunuh dengan pisau yang sama!” Sifat otoritatif yang ekstrem ini terbaca sebagai penggambaran kepongahan politis satu generasi terhadap generasi yang lebih baru, sementara kebudayaan yang membentuk di belakangnya sudah demikian hancur lebur.

Teater Psikologi dan Pertanyaan Soal Subjek  

Teater Nonton [Istahar]

Teater Nonton

Teater Nonton memiliki obsesi tersendiri soal tema psikologis. Kali ini mereka membawakan lakon Istahar dengan penulis dan sutradara Diky Soemarno. Garapan ini seperti ingin melanjutkan tema yang sama ketika mereka membawakan Kokology yang juga ditulis oleh Diky Soemarno.

Menampilkan tokoh sentral seorang pengarang bernama Surya, sejak pertunjukan dimulai kita diberikan satu tawaran ruang yang asing, dinding ruang yang tak selesai, bingkai-bingkai foto yang kosong. Dari meja kerjanya, Surya membawakan sebuah kisah tentang Roro Mendut, lampu berpusat pada sosok ini, yang di sekitarnya digelapkan, dan nampaklah dia berada dalam sentrum panggung. Pembagian ruang semacam itu menjadikannya lebih leluasa memainkan cerita seperti sebuah monolog. Lalu kita tahu, setelah cerita usai dan lampu panggung lain dinyalakan, empat orang anak sedang mendengarkan cerita dari Surya. Mereka adalah ‘anak-anak’ sang pengarang, dan mereka menyebut ‘ayah’ mereka dengan panggilan “bapak anjing”.

Peristiwa bergulir dalam order deterministik tokoh utama. Keempat orang anak itu dibuat tipikal: seorang yang lebay, seorang yang selalu marah-marah, seorang yang idiot, dan seorang yang selalu tegas. Karena dibuat demikian tipikal, keempatnya memiliki risiko kehilangan kedagingan. Berikutnya datang paman Sapta dengan tipikal religius, dan sepasang suami istri “Paman” dan “Bibi Anjing” yang digambarkan juga secara tipikal sebagai sepasang ilmuwan.

Selanjutnya, adegan demi adegan dibuat dengan pola yang sama: Surya membawakan cerita dan yang lain-lain mendengarkan. Dari cerita yang dilisankan terkadang diciptakan peristiwa. Pertarungan Superman dan Gatotkaca membuahkan adegan dramatis yang diakhiri kemudian dengan petuah-petuah, masih terasa klise dan juga stereotipe. Oposisi biner antara yang modern (Superman) dan yang tradisi (Gatotkaca) tidak bergerak pada satu pewacanaan yang jelas. Teknik repetisi adegan dalam lakon ini malah membuat cerita kehilangan fokusnya, misalnya ketika dalam sejumlah adegan kita diperlihatkan bahwa Surya disodorkan sosok perempuan misterius oleh tokoh Emak. Sosok perempuan ini kadang bak seorang pelacur kadang bagai psikopat. Identifikasi ini muncul ketika keempat anak menuding bahwa si perempuan adalah pembunuh.

Imajinasi kita seakan digiring oleh keempat tokoh anak tadi karena mereka memang dominan dalam pembawaan cerita. Tetapi, kemudian suasana panggung berubah setelah Surya kehilangan ingatan akan tokoh paman Sapta, Bibi dan Paman Anjing. Kita tahu bahwa, keempat tokoh yang dominan dalam cerita justru yang fiksi sementara perempuan yang misterius dan Emak adalah yang riil. Pertukaran antara yang riil dan imajinatif ini menurut saya adalah salah satu kekuatan Istahar, selain permainan tata cahaya dan video, addictive mixing yang berhasil menciptakan cahaya ungu, bagi saya itu cukup manis untuk menutup adegan-adegan privat, ditambah permainan video untuk menukar adegan-adegan banal juga cukup tepat. Memang, saya cukup kelelahan mengikuti dialog-dialog yang kadang klise dan berlarat-larat. Saya kira, kerja editing masih diperlukan.

Teater Manekin [Ruang Rias]

Teater Manekin

Teater Manekin mementaskan Ruang Rias, sebuah lakon bertema kehidupan transgender. Lakon ditulis oleh seorang lelaki, Purwadi Djunaedi (PD), dan disutradarai juga oleh seorang lelaki, Ch. Cheme Ardi. Seluruh aktornya transgender, seperti Pandan, Devi, Sammy Milano, Wanty dan Uti Herang.

Cerita berpusat pada tokoh Sarta (Pandan) yang terobsesi menjadi seorang yang cantik menawan laksana bintang iklan sabun. Dia hanya mampu berimajinasi tanpa berupaya mewujudkannya. Sampai kemudian ia bertemu Bernadette, seorang penata make-up yang bisa mengubah segalanya. Meskipun pementasan ini berjudul Ruang Rias, ruang yang dihadirkan cenderung menjadi surreal dibanding real. Bernadette lebih mirip seorang pesulap ketimbang seorang penata rias yang biasa.

Sepanjang pertunjukan, Bernadette menyentuh organ-organ tubuh Sarta untuk membuatnya jadi sempurna: melepas bulu-bulu di betis, mengganti hidung, memperbaiki jidat, dan seluruh adegan itu adalah agresi yang diakhiri jeritan suara Sarta. Sampai pada akhirnya, Sarta sendiri malahan menikmati semua perubahan pada tubuhnya. Di puncak fantasmagoria yang demikian, Sarta lantas berubah wujud menjadi manekin. Suspensi yang berjalan masih kasar ini menawarkan satu pertanyaan berlapis: Apakah di antara kaum transgender telah terjadi relasi subjek-objek yang begitu keras? Pertanyaan lainnya, apakah aktor di dalam pementasan ini telah merasa terwakili sebagai subaltern dalam kehidupan sosialnya, atau hanya melayani pandangan penulis lakon dan sutradara yang juga laki-laki?

Terlepas dari permainan para aktor yang begitu kuat, bagi saya, pementasan ini kurang mampu mengurai latar belakang setiap tokohnya. Ia seperti dunia asing yang tidak memiliki sejarah sosial, semisal dalam persoalan kaum transgender sebagai masyarakat subaltern yang secara faktual bersuara keras untuk memposisikan diri, ternyata tidak memiliki ruang yang cukup di dalam pementasan ini. ***

Foto-foto oleh Dyan S. Indriyani

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *