bagian tiga_

Catatan Pengamat: Bagian Tiga

Catatan Pengamat atas pertunjukan
Pintu Kereta (5 Desember | 14.00 WIB)  
Unlogic Teater (5 Desember | 20.00 WIB)  
Lab Study Teater (6 Desember | 14.00 WIB)  
Samudra Indonesia (6 Desember | 20.00 WIB)  
Seluruh pertunjukan berlangsung di panggung Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki
oleh: Semi Ikra Anggara

Dua pementasan teater dengan ungkapan non realisme hadir di hari ke lima Festival Teater Jakarta 2015. Kedua kelompok itu adalah Pintu Kereta yang membawakan Dan Siapa Nama Aslimu karangan Komunitas Berkat Yakin, dan Unlogic Teater membawakan Spirit of Tjijih. Hal menarik dalam dua pementasan ini adalah upaya untuk membuat visual berjalan bersamaan dengan bahasa verbal aktor-aktornya meskipun pencapaiannya memang berbeda.

Teater Pintu Kereta

Pintu Kereta

Pengamatan atas Pintu Kereta (sutradara: Abi ML). Ketika lampu panggung dinyalakan, terlihatlah tangga yang digantung, bangku dan bingkai. Sebuah isyarat bagaimana visual akan berjalan lebih dulu tinimbang kata-kata. Tapi bayangan kita langsung berubah saat seorang pemain perempuan di sudut kanan panggung membacakan puisi dengan proyeksi vokal yang terlampau pelan, dan ini menjadikan komunikasi terganggu. Sepotong puisi panjang yang dibacakan pada bagian awal ini gagal mendistribusikan makna, sementara bagian lain dari puisi dibacakan sepanjang pertunjukan.

Sejumlah anak kecil lalu melintas mencari bapak mereka, seorang lelaki melindungi dirinya dengan payung, benda-benda jatuh, dan seseorang menyimpan dirinya di atas bingkai. Puisi kembali dibacakan, kali ini secara berbarengan. Saya sendiri tidak mengalami bahwa puisi dan peristiwa berelasi langsung karena pembacaan puisi yang terlalu asyik dengan permainan fonetis tidak menciptakan ruang apa pun. Pergerakan aktor, benda-benda di atas pentas, kurang berhasil memberikan tawaran metaforis. Terkadang, eksekusi aktor terhadap benda-benda hanya berhenti pada sebatas pose.

Terus terang, saya kesulitan mendapatkan pintu masuk bagi pementasan ini, antara yang visual dan verbal bertebaran di atas panggung, antara puisi dan auto direction sudah tidak bisa dibedakan lagi, hanya menyisakan polusi. Saya hanya menduga peristiwa teater ini membicarakan perkara identitas geneologis; samar-samar saya mendengar puisi Ari Pahala Hutabarat, Sumur Bapak, dibacakan, lalu pada bagian lain, puisi tentang Malin Kundang, “Ibu bukan hanya aku yang mesti jadi batu”. Tapi, sekali lagi, pembacaan puisi yang dibacakan dengan vokalisasi yang nyaris seragam hanya jadi puisi panjang yang membosankan.

Diksi puisi, yang meskipun ditulis atas nama komunitas (yang artinya orang banyak) masih terdengar mirip. Puisi seperti dikontrol oleh otoritas tunggal, seperti sejalan dengan kerja penyutradaraan dalam teater ini yang cenderung hanya melakukan kerja desain, barangkali oleh karena itu pula dalam pertunjukan ini saya tidak menemukan aktor yang kuat.

Saya tidak bermaksud mendefinisikan aktor yang kuat sebagai seorang yang sanggup membawakan penokohan secara utuh seperti dalam realisme, di mana seluruh laku luarnya ditentukan oleh motivasi dari dalam, melainkan aktor yang sanggup memaksimalkan suara, kepekaan perasaan dan vokabulari kebertubuhan yang kaya. Dalam gaya ungkap teater non realisme, sudah sewajarnya ada ruang yang luas bagi eksplorasi keaktoran. Sehingga dengan demikian, sutradara tidak lagi dilihat sebagai pusat. Dilihat dari gaya pementasannya, saya kira Pintu Kereta membutuhkan teater workshop.

Unlogic Teater

Unlogic Teater

Unlogic Teater (teks dan sutradara: Dina CF) menggantungkan gentong-gentong dari langit-langit panggung; cahaya menelusup secara minimal; suatu instalasai yang menawarkan misteri. Sebuah gentong dijatuhkan, suaranya keras, semacam kejutan, lalu aktor perempuan menembang dengan lembut. Cara menembang yang lembut ini mengingatkan saya pada identitas kesundaan yang arkaik, sikap rohani dan laku yang lembut terhadap alam, manusia dan Tuhan. Kelembutan dalam menembang konsisten dengan unsur-unsur yang lain: pencahayaan, suara dan laku. Dadang Badoet menari dengan perlahan, mirip tari leunyeupan sebuah rumpun dari tari keurseus yang gerakannya mengalun dengan tempo yang lambat dan menggunakan kehalusan rasa.

Memang, sekitar 30 menit pertama seluruh adegan dibuat sangat perlahan, seperti mempresentasikan satu dunia atas dalam kosmologi masyarakat Sunda. Pada bagian ini meskipun tembang dibawakan secara mengalun, masih terasa ‘berisik’ dengan memilih diksi kontekstual soal Miss Tjijih, semacam verbalisme yang disadari sebagai satu strategi komunikasi untuk mendistribusikan pokok pikiran soal tradisi dan perubahan.

Dunia atas yang halus dan perlahan diubah menjadi adegan penuh yang lebih elastis, dan pada bagian berikutnya: sepasang mojang yang sedang mencari kutu diganggu oleh broker pariwisata berpakaian aneh dalam jas resmi yang dipasangkan dengan celana renang. Ia seorang yang sepanjang percakapan selalu menjilati gula-gula (representasi penjilat kekuasaan), ini meledek tradisi tapi membutuhkannya sebagai barang dagangan. Tradisi yang direpresentasikan dengan cukup sarkastik (mencari kutu) terasa lebih mengalir tanpa beban verbalisme seperti yang kita tangkap pada bagian awal tadi, pada bagian ini persoalan yang dibicarakan terasa menjadi lebih ringan dan mengalir.

Lebih intensif yaitu setelah kehadiran dua tokoh perempuan: ibu penjemur dan ibu pencuci. Kedua tubuh, dua tokoh ibu itu seperti tidak mengalami sentuhan penyutradaraan yang ketat; bahasa Sunda yang sejak awal patuh pada undak usuk basa kini dilepaskan gramatikanya menjadi sebagai bahasa Sunda keseharian yang organik hidup di masyarakatnya; sebuah bahasa yang terus hidup dan mengalami perubahan. Mereka bercakap tentang mencuci dan menjemur, di mana perdebatan terjadi hanya pada soal-soal kecil, sebagai narasi tradisi yang diurai secara lebih akrab seperti kain-kain batik yang dijemur satu persatu. Dari percakapan-percakapan kecil itulah terbuka satu wacana besar tentang tradisi yang menemukan kontekstualisasinya. Jemuran tadi diangkat dari langit-langit panggung, menyatu dengan gentong-gentong yang sudah digantung sejak awal, sebuah intalasi berbagai jenis batik: yang tua dan yang lebih muda, menggantung bersama gentong-gentong.

Dua lelaki muncul dengan suara “Ae, ae…”, sebuah kata-kata ungkapan Sunda yang tidak memiliki pengertian semantik tapi masih digunakan dalam kesenian Sunda yang berasal dari upacara di masa lalu, seperti terbang gebes, seni pantun ronggeng gunung. Vokalisasi dua lelaki ini begitu dalam namun terproyeksi ke bagian-bagian sudut gedung pertunjukan, menciptakan imaji yang luas soal identitas kebudayaan yang tercipta dari masa silam. Pada bagian ini pun verbalisme kembali muncul. Kritik, atau lebih tepatnya otokritik, terhadap komunitas Miss Tjijih tentang resistensi generasi keempatnya kembali diucapkan secara benderang lewat tembang yang sesungguhnya dibawakan dengan cukup memukau. Sebuah lampu dijatuhkan tepat di atas kepala aktor menciptakan kejutan tersendiri, seperti menyodorkan sebuah pemaknaan wajah tradisi di antara kegelapan dan cahaya yang terus bergerak.

Pada hari keenam pelaksanaan festival digelar dua pementasan realisme: Penggali Intan karya Kirdjomulyo oleh Lab Study Teater (sutradara: Idris Senopati) dan Tanda Silang (saduran WS Rendra dari karya Eugene O’Neill) oleh kelompok tetaer Samudra Indonesia (sutradara: Joind Bayuwinanda).

Lab Study Teater

Lab Study Teater

Ketika lampu panggung dinyalakan, sebuah setting rumah kayu menghabiskan ruang panggung, dan garis imajiner langsung berada di bibir panggung. Kemudian pada bagian berikutnya, ternyata, dari setting yang besar itu berkonsekuensi membuat aktor melabrak garis imajinya sendiri: mereka kerap mondar-mandir dari dalam ke luar panggung, dan dialog di luar panggung seringkali tidak mendapatkan pencahayaan yang cukup.

Penggali Intan melalui Lab Study Teater kali ini nampaknya memiliki beberapa persoalan yang cukup mendasar: aktor seringkali kehilangan motivasi dalam dialognya sehingga yang keluar dari mulut adalah percakapan bahasa Indonesia di dalam naskah. Dorongan dalamnya belum bisa menjadikan dialog menyatu dengan kebertubuhan aktor. Tidak selalu begitu, memang. Saya yakin, semua aktor dalam pementasan ini bersungguh-sungguh betul untuk menjadikan dirinya tokoh yang kuat. Pemeran Sanjoyo yang memiliki beban karakter cukup berat, beberapa kali kehilangan konsentrasi, inilah yang menyebabkan aktor ini keseleo lidah (slip tongue), inner acting-nya tidak keluar. Tertawa, misalnya, hanya punya alasan untuk tertawa itu sendiri, bukan tertawa karena suatu alasan.

Pemeran Siswadi dalam pementasan ini, menurut saya, menunjukan bakatnya. Dia berusaha lebih tenang dalam setiap merespon lawan mainnya. Kesadaran kebertubuhannya juga baik meskipun, kadang-kadang, seperti halnya tokoh Sanjoyo dan Sarbini, kehilangan motivasi dialognya juga, responsibilitas yang kurang tepat, dan suka kebingungan menempatkan organ tubuh. Sementara peran Sunarsih, dalam amatan saya cukup mampu memainkan peran dengan relatif berhasil. Setiap dialognya senantiasa memiliki alasan yang kuat meskipun lawan mainnya tidak senantiasa memberikan stimulus yang tepat. Konsisten dalam memainkan karakter di saat lawan main tidak memberikan stimulus yang bagus, pastilah sangat melelahkan. Namun, jika kehilangan fokus, teater bisa selesai.

Kerja penyutradaraan tidak berani melakukan peremajaan terhadap lakon ini. Misalnya, sebutan tentang jumlah nominal uang masih dipertahankan. Upaya yang memang diusahakan konsisten dengan penandaan pemanggungan yang lain seperti pada properti rumah kayu dan kostum. Tapi, mempertahankan teks secara relatif utuh bisa membebani kerja keaktoran juga dan membuat durasi menjadi lebih panjang namun tidak efektif. Misalnya, ketika Sunarsih dikatakan terperosok ke lubang penggalian, masih sempat-sempatnya kedua tokoh Sanjoyo dan Siswadi berdebat panjang. Yah, untunglah, Sunarsih belum mati.

Samudra Indonesia

Samudra Indonesia

Kehancuran keluarga digambarkan dalam Tanda Silang oleh Samudra Indonesia. Pemimpin keluarga (Kapten) mengalami skizofrenia. Dia membuat satu sudut bagian luar rumahnya seperti sebuah kapal lantaran ia bekas nakhoda yang meyakini memiliki harta karun terbuai dalam khayalannya sendiri selama 15 tahun. Pikiran dari orang sakit ini juga diyakini oleh anak kandungnya (Darpo) hingga kemudian dia mengundang seorang psikiater untuk mengobati bapaknya, bahkan, kalau bisa, mengirim bapaknya ke rumah sakit jiwa. Rencana yang tidak terlalu mulus karena mendapat tentangan dari Nani, adiknya sendiri.

Distribusi kegilaan, ternyata, sampai pula pada psikiater. Dia juga memiliki hasrat terhadap harta karun. Pada akhirnya, teater diselesaikan dengan kematian tokoh laki-laki; Kapten dibunuh oleh Darpo, Darpo dibunuh psikiater, psikiater dibunuh Nani. Semua aktor bermain prima, mantap, lontaran dialog-dialog oleh mereka meyakinkan, di mana peristiwa-peristiwa kecil diciptakan dengan ekpresi fisikal yang didorong psyche yang sakit. Kecemasan-kecemasan dan ketidapastian telah diterjemahkan dengan tubuh dan tidak semata dengan ekspresi muka dan kata. Seluruh ruang di atas panggung dieksekusi dengan tepat.

Persoalan yang barangkali perlu dipertimbangkan ulang adalah, soal pilihan ruang eksterior di mana seluruh konflik dibangun sehingga interior bisa lebih menemukan alasan logis untuk menciptakan kegilaan keluarga ini. Tokoh psikiater seringkali bermain di wilayah gelap panggung dan ini membuat komunikasi terganggu. Sepanjang pertunjukan, menurut saya, tata cahaya kurang tergarap secara presisi. Di luar itu, pada beberapa adegan, tata cahaya sanggup memberikan ruang imaji yang meyakinkan, terutama pada bagian awal dan akhir. ***

Foto-foto oleh Dyan S. Indriyani

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *