IMG_9414

Catatan Pengamat: TEATER BARU

TEATER BARU
Lakon: Uhibbuka
Karya & sutradara: R. Tono
7 Desember 2015 | pukul: 14.00 | Panggung Teater Kecil
oleh: Azuzan JG

Pertunjukan ini dimainkan secara musikal. Para pemainnya bernyanyi mengungkapkan emosi-emosi tokoh yang dirasakannya. Ada tantangan bermain yang lebih dari sekadar bermain dengan ungkapan dialog biasa. Ini sebuah pilihan bahasa ungkap teater yang akhir-akhir ini berkembang di Jakarta. Drama musikal.

Setting dibangun dengan sederhana. Imaji ruang-ruang dibangun dengan membuat ketinggian level di bagian belakang tengah panggung. Di bagian kiri dan kanan ada backdrop, kain putih dijuraikan dari atas para-para sampai lantai panggung. Membentuk dua bagian terpisah. Keterpisahan ruang itu dipertegas dengan layar kelabu pekat di tengah-tengahnya. Mengisyaratkan bahwa dalam cerita itu ada sesuatu yang dipisahkan. Peristiwanya berlangsung di dua ruang utama: rumah kos wanita, dan rumah kos laki-laki, dan ruang “di suatu tempat”. Tata cahaya berupaya memunculkan ruang-ruang yang dituntut dalam penceritaannya. Peristiwa teater yang dipaparkan mengandalkan kekuatan para pemain dalam menghidupkan keberadaan berbagai ruang itu.

Teater baRu

Teater baRu

Melalui pencahayaan, ruang itu diupayakan berubah-ubah fungsinya. Di satu saat jadi sebuah kamar, disaat lain, jadi semacam ambin tempat duduk, di saat berikut, jadi bagian dari sebuah jalan. Ada juga seperti, mungkin sebuah jalan menuju sorga? Seperti dimunculkan di bagian akhir, saat layar kelabu itu membelah, Bara yang telah berada di alam barzah itu, yang ditandakan dengan pakaian Ikhram itu, kemudian melangkah menuju Ning di depannya. Ini penyiasatan ruang yang diupayakan efektif. Dengan pilihan ruang seperti itu, pertunjukan ini terfokus pada ruang yang terjadi dalam batin tokoh-tokohnya. Bukan pada ruang yang ditampakkan secara fisik di pentas. Kemunculan ruang-ruang itu dimunculkan oleh para pemainnya.

Di satu saat, ruang yang dimunculkan itu berhasil membersitkan kesan ruang yang dimaksud dalam cerita, misalnya, sebuah ruang kos pria. Tetapi untuk penggambaran bahwa itu sebuah ruang kos wanita, ruang itu kurang berhasil dimunculkan. Tata cahaya tidak mengisolasi bagian-bagian yang tak ingin ditampakkan. Dua kain putih yang menjurai dari para-para dan rentan menerima bias cahaya itu, membatasi meluasnya imaji ruang. Ruang terasa statik. Dimensi ruang dan waktu seakan berhenti.

Persoalan cinta yang kait-berkait satu sama lainnya dalam drama ini tidak seluruhnya disampaikan dengan bernyanyi. Ada yang disampaikan melalui dialog-dialog biasa berirama. Dialog-dialog itu disusun dengan mengupayakan kesamaan bunyi kata di akhir kalimatnya. Misalnya, pada dialog Ning dan Siti di adegan pembuka:

“Melamun lagi?”

“Apa lagi?”

“Dia lagi?”

“Kayak gak ada lain lelaki”

“Aku tak bisa ingkar janji”

………..dst.

Permainan bunyi kata itu lebih mencuat di adegan Dewi, Siti, dan Ning:

……………

“Tetap saja, aku lebih suka seperti sekarang”

“Tapi kadang, kamu pasti ingin manja pada seseorang?”

“Kalau soal itu sih gampang. Lha wong bisa sama cowok sembarang”

“Yang penting sama-sama senang. Syukur-syukur bisa dapat uang”

“Aku sih gak kebayang.. Memang bisa gak pake rasa sayang?”

“Siapa bilang?”

“Memang?”

“Juga pake rasa, terkadang”

“Tapi cuma di awang-awang”

…………… dst.

Dialog-dialog berirama itu, cukup tangkas dimainkan para pemainnya. Adegan-adegan berlangsung intens dan tempo bermainnya terjaga. Semua pemain tampak cukup intens bermain menggeluti persoalan peran dalam batinnya masing-masing. Peralatan ekspresi luar (tubuh, suara dalam berdialog) tampak sudah cukup siap dijadikan alat-alat ekspresi oleh seluruh pemainnya. Peralatan dalam: konsentrasi, imajinasi, emosi-emosi, juga cukup siap untuk memunculkan berbagai ekspresi yang dibutuhkan pertunjukan. Seluruh pemeran cukup fasih ketika berdialog dengan dialog-dialog ritmis itu.

Persoalan dalam berperan itu menjadi terganggu saat para pemainnya bernyanyi. Berkali-kali persoalan intonasi, ketepatan nada suara ditempatkan pada chord musik, tidak stabil. Kadang terlalu tinggi, kadang terasa kerendahan. Ada banyak hal penyebabnya. Suara musik terdengar sangat berjarak, seolah itu terdengar berasal dari kejauhan panggung. Mungkin itu persoalan penempatan monitor loudspeaker alat musik, problem teknis mixer dan amplifier, atau persoalan akustik ruang di belakang panggung, atau itu memang benar-benar persoalan dari para pemainnya? Saya menonton pertunjukan ini kedua kalinya. Ketika pertunjukan itu dimainkan di BLK Jakarta Timur, persoalan ketepatan bernyanyi diiring musik, itu biarpun ada tapi tak begitu kentara. Suara musik seperti menyatu dengan suara nyanyiannya. Di sini, itu jadi masalah utama

Jakarta, 9 Desember 2015

Foto-foto oleh Dyan S. Indriyani

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *