TEATER FATIMA

Catatan Pengamat: TEATER Fatima

TEATER FATIMA
Lakon: Golok Warna Merah Jambu
Karya & sutradara: Afri Rosyadi
9 Desember 2015 | pukul: 14.00 | Panggung Teater Kecil
oleh: Azuzan JG

Adegan dibuka dengan musik berirama Sunda dan suara ombak di latarnya. Lalu tema musik tiba-tiba berubah, mengesankan kehidupan di perkotaan. Perpindahan wilayah musik. Bersamaan musik pertanda kota itu, lampu panggung semakin terang. Tokoh Ibu tampak menonton TV. Sang anak muncul dari luar. Si Ibu merokok, si Anak berjilbab. Ada kontras-kontras antar ruang dan tokoh yang ingin diperlihatkan.

Naskah Golok Warna Merah Jambu memaparkan tentang sebuah peristiwa domestik. Hancurnya hubungan keluarga akibat persoalan ekonomi. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tokoh Bapak melakukan perampokan. Pada saat merampok, ciri-cirinya diketahui korbannya bahwa ia menenteng golok berwarna merah jambu. Di akhir cerita, polisi berhasil menangkapnya.

TEATER FATIMA

Teater Fatima

Setting dibangun memakai prinsip dimensi dinding ke empat. Sebuah ruang tamu. Sebuah pintu ada di bagian belakang dinding. Di sisi kirinya, dua buah kursi dan sebuah meja kecil. Sebuah jendela di bagian dinding kanan. Ada sebuah ambin bambu di bawah jendela itu. Berseberangan dengan ambin, ada sebuah akuarium bulat kecil, lengkap dengan dua ekor ikan lele berenang-renang di dalamnya. Lalu sebuah pintu menuju keluar, ada di bagian seperempat panggung kiri. Sebuah bangku panjang ada di ruang luar itu. Di belakangnya sebuah dinding, lengkap dengan jendela, seperti yang terdapat di dinding kanannya. Dalam ruang ini para pemainnya bergerak sebagaimana layaknya di kehidupan sehari-hari.

Adegan dimulai antara tokoh Ibu dan Anak, mempersoalkan tokoh Bapak. Biarpun di ruang itu secara fisik tokoh yang mereka bicarakan itu tidak dihadirkan, ia hadir melalui penceritaan. Di akhir adegan terdengar suara sirine polisi. Ibu dan anak, tampak panik secara berlebihan. Dramatisasi adegan ini tampak berlebih dari porsinya. Berbagai unsur pendukung pertunjukan dikerahkan. Suara sirine, musik dan efek untuk ketegangan adegan, tokoh Ibu dan Anak yang bergerak lebih cepat dan mengucapkan dialog-dialognya dengan nada-nada tinggi dan cepat, kesemuanya dihadirkan di saat bersamaan. Lonjakan dramatik ini seperti ingin mengatakan sesuatu hal, yang ternyata itu tidak ada. Kepanikan itu mungkin tidak perlu sampai segawat itu.

Hubungan antara tokoh Bapak dan Ibu agak aneh. Tokoh Bapak mencurigai bahwa tokoh Ibu tidak mencintainya. Tokoh Ibu mati-matian membela diri bahwa ia tidak seperti yang dituduhkan si suami, namun tetap saja si Bapak tidak percaya. Itu diucapkan kedua tokoh berulang-ulang. Di latar pertengkaran tersebut sayup-sayup suara sirine. Si anak mendengar pertengkaran itu, kemudian membuahkan luka di hatinya. Dan sesudah adegan itu berlalu, tokoh anak melalui akting presentasional (berbicara pada penonton) menjelaskan bahwa pertengkaran orang tuanya itu membayang-bayangi jalan hidupnya. Tendensi si tokoh Anak adalah pencerita, tampak ketika si anak sesudah keluar panggung, kemudian berjalan mundur, menyampaikan sepotong dialognya lagi pada penonton.

Cerita diakhiri dengan masuknya tokoh Polisi yang menyamar sebagai orang biasa. Terjadi pertengkaran dengan orang tidak dikenal itu. Tokoh Bapak mencabut goloknya, dan saat itu secara mengejutkan orang itu menembak kakinya. Akhirnya diketahui, disampaikan oleh tokoh polisi, bahwa tokoh Bapak itu adalah orang yang sudah lama dicari polisi. Ia merampok dengan golok berwarna merah jambu. Sambil lalu, pemilihan judul Golok Warna Merah Jambu, agaknya bermaksud untuk menekankan bahwa tokoh Bapak melakukan perampokan atas dasar cinta pada keluarganya.

Ketiga pemain, Tokoh Bapak, Ibu, dan Anak, dalam pertunjukan ini bermain cukup bagus. Mereka tidak bermain secara artifisial. Persoalan-persoalan tokoh, mereka mainkan melalui penghayatan “dalam”. Berbagai emosi, dari tertawa, marah, sedih, kecewa, dan lain-lain, hadir secara bersahaja. Tokoh Ibu bermain rileks. Ia juga bisa bernyanyi dengan ketepatan nada yang bagus. Permainan gestur si istri saat menyuruh si suami pergi: dengan hanya menunjuk ke arah keluar tanpa bicara, senyap beberapa lama; memberi impresi mendalam. Momen menarik lainnya di pertunjukan ini, pada saat ruang dipisahkan dengan pencahayaan. Si anak berada di serambi rumah. Ibu dan Bapak di ruang sebelahnya, diam setelah bertengkar. Si Ibu di depan jendela, mendapat sedikit cercahan cahaya dari luar, dan si Bapak duduk di kursi di depan TV. Statis. Kedua ruang dan aktornya itu saling memberi makna.

Ganjalan dalam mencerna pertunjukan ini, gambaran kemiskinan yang berkali-kali disebut si Istri tidak tergambar melalui ruang. Tampilan ruang cenderung ditata rapi. Cat dinding berpola garis-garis kuat, memunculkan kesan itu bukan rumah dari sebuah keluarga yang menghadapi persoalan ekonomi. Selain itu, melalui alur cerita sederhana, ada banyak hal yang ingin dijejalkan di pertunjukan ini. Pada saat adegan panik secara berlebihan, ada suara gemuruh. Setelah si Ibu mengucapkan dialog: “Semoga Tuhan melindungimu……” lalu suara gemuruh itu hilang. Ada penekanan suara lonceng di akhir kalimat itu, menandakan kata Tuhan itu dianggap penting. Di bagian lain, saat tokoh Bapak merasa tidak puas tentang nasib-nasib orang-orang miskin seperti dirinya, ia protes terhadap parlemen, pemerintah. Muatan cerita melampaui kapasitas plotnya.

Permainan teater rakyat, permainan antara serius dan bercanda, mewarnai pertunjukan ini. Kemunculan tokoh penagih hutang berlogat Batak, tokoh polisi yang disamarkan dan bermain-main dalam kata-kata, adu pantun sebelum berkelahi, merupakan jejak-jejak teater rakyat yang kentara. Perpaduan konsep teater modern dengan bumbu penceritaan ala teater rakyat, tampaknya bisa menjadi ciri kuat kelompok teater ini. Proses penegasan plot dan perkembangannya, serta proses editing, diperlukan untuk menjadikan Golok Warna Merah Jambu ini lebih bermakna.

Jakarta, 9 Desember 2015

Foto-foto oleh Dyan S. Indriyani

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *