Teater Gumilar

Catatan Pengamat: TEATER GUMILAR

TEATER GUMILAR
Lakon: Ibu Saya Sakit Saya Sakit Ibu
Karya & sutradara: R. Monowangsa
7 Desember 2015 | pukul: 20.00 | Panggung Teater Kecil
oleh: Azuzan JG

Pertunjukan dimulai dari luar gedung. Di depan pintu masuk. Seseorang meniup saxophone. Ia memakai baju putih, bertopi koboi tapi bersarung. Irama saxophone-nya bergema dan menyayat. Penonton terfokus padanya. Saat penonton mulai hening mendengarkannya, suara orang bercakap-cakap dengan nada agak keras menyelinap. Fokus berpindah ke arah suara itu. Di arah suara itu ada dua panel segitiga ditempeli pecahan cermin. Cermin yang tak bisa lagi dipakai untuk bercermin. Itu merupakan bagian dari pertunjukan. Dua sosok tubuh, lelaki dan perempuan duduk di depan panel dengan pecahan cermin itu. Mereka seperti malu memandang wajahnya sendiri di cermin retak-retak itu. Persoalan yang mereka lontarkan dengan nada kejengkelan itu mempersoalkan kesejatian manusia yang makin terkikis di masa kini. Tentang kehidupan manusia yang kini cenderung tak ubahnya robot-robot saja. Mereka mengakhiri adegan itu dengan ucapan berulang: “Gua muak lihat muka lo!

Melalui introduksi pertunjukan itu, Teater Gumilar ingin menyentak kesadaran penontonnya. Peristiwa teater tidak cuma terjadi di dalam gedung. Di ruang tunggu, di depan panel FTJ, atau di mana saja, peristiwa teater itu bisa terjadi. Di depan dua sosok tubuh lekaki dan perempuan itu, masih ada tubuh perempuan lain bergerak perlahan. Menimbulkan rasa ingin tahu lebih jauh.

Teater Gumilar

Teater Gumilar

Di dalam gedung, musik blues menyergap penonton. Kita tidak melihat ada orang bermain musik. Suara serak penyanyinya mengingatkan kita pada Janis Joplin. Nyanyiannya menyuarakan kepedihan hati yang mendalam. Saat peristiwa teater di luar gedung dipindahkan ke dalam itu, irama pertunjukan yang terbangun di luar gedung masih terjaga. Penundaan waktu pertunjukan menunggu penonton masuk gedung diisi rintihan nyanyian blues. Tapi keberisikan penonton memasuki gedung, mencari-cari tempat duduk di keburaman cahaya auditorium, tidak bisa dihindarkan. Agak membuyarkan gema peristiwa teater yang barusan terjadi di luar.

Peristiwa teater yang sempat teralang itu terbangun kembali, saat tirai di tengah belakang panggung dikuakkan sedikit. Cahaya (back light) di ruang sempit itu menampakkan bayangan sesosok tubuh berdiri tegar. Ada kabut tipis di belakang sosok itu. Memunculkan misteri mendalam. Impresi yang kuat.

Ruang untuk menggulirkan peristiwa teater di pertunjukan ini tampak didesain cermat. Tidak njelimet, tapi mengundang keingintahuan kita untuk menemukan relasinya dengan judul cerita dan sinopsis yang ditawarkannya. Momen estetik dari sosok yag muncul di celah backdrop yang terkuak itu diberlangsungkan beberapa detik saja. Sebenarnya, sayang. Waktu singkat itu masih terasa kurang untuk memulihkan keberisikan gedung saat penonton memasuki auditorium. Sosok tubuh itu keburu bergerak maju.

Di tengah panggung kita melihat, ada trapesium segitiga terbalik. Di kisi-kisinya ditempeli buku-buku. Di bawahnya, di lantai panggung, teronggok sebuah batu besar. Di bagian area kiri dan kanan panggung bertebaran beberapa tungku besi untuk tempat penggorengan. Cahaya merah menyoroti trapesium terbalik itu. Menyiratkan bahaya yang mengancam benda-benda dan apa saja yang berada di bawahnya.

Sosok tubuh itu bergerak maju, mengucapkan sederet kalimat: “…globalisasi menjelma jadi gombalisasi…”. Kemudian ia mengambil posisi di bawah trapesium segitiga itu. Seolah mendatangi bahaya yang mengancam itu. Lalu ia menghantam batu di lantai itu dengan palu besi. Pekerja berat. Suara palunya bergedebum memenuhi ruang. Sosok tubuh itu ditampakkan makin kentara. Itu tubuh perempuan. Mungkin itu tokoh Ibu yang dimaksud? Sambil menghantam batu, ia memberondongkan kalimat-kalimatnya. Agresif. Ada kemarahan yang lama tertahan kemudian ditumpahkan. Timpal-menimpal dengan hunjaman palunya di atas batu.

Di bagian awal pertunjukan ini, penonton seperti tidak diberi kesempatan untuk menggapai makna di balik ucapan-ucapan yang diberondongkan si tokoh yang mungkin Emak itu. Lalu seiring alunan blues, di latar depannya diisi sosok tubuh perempuan menyeret kuali berisi batu-batu kerikil. Suara seretan penggorengan itu menyeruak diantara suara musik. Lalu tubuh-tubuh perempuan lain pun bermunculan, membawa penggorengan yang juga berisi kerikil. Mereka bergerak mengisi ruang. Berbagai komposisi menarik hadir di pentas, di bawah trapesium segitiga yang seolah mengancam itu. Mereka bermain dengan intensitas tinggi. Mereka memperlakukan penggorengan itu dengan gerakan berbeda dalam tempo dan irama yang sama.

Persoalan-persoalan kehidupan yang digelar kelompok teater ini terilhami dari pengalaman personal sutradara, saat tangan ibunya tercelup ke minyak panas sewaktu ia akan menggoreng rempeyek. Pengalaman mencekam itu didistribusikan sutradara ke pemain-pemainnya. Setiap pemain kemudian mencari dan mengungkapkan pengalaman personalnya sendiri bersama ibunya masing-masing. Pengalaman-pengalaman personal yang terhimpun itu kemudian dikomposisikan sedemikian rupa di atas panggung. Ini sebuah bentuk kerja teater yang terbuka. Menyediakan ruang partisipasi bagi setiap pemain mengungkapkan pengalaman hidup yang dicatat tubuhnya masing-masing. Melalui jalan berproses seperti ini, pertunjukan memiliki enerji cukup untuk diledakkan di atas panggung.

Pertunjukan dengan nada perih kemarahan ini banyak mencuatkan siratan persoalan-persoalan domestik, hubungan antara anak dan emak, dan meluas ke persoalan-persoalan di sekeliling kehidupan mereka. Seperti buku-buku di trapesium terbalik itu. Itu bisa dibaca seperti informasi-informasi dan peristiwa yang siap menghunjam, menghantam kehidupan yang keras di bawahnya. Dan trapesium segitiga itu akhirnya memang jatuh. Si tokoh pemecah batu melanjutkan kerjanya. Suara palu bergedebum. Lalu seorang anak perempuan kecil meminta-minta lirih dari arah penonton: “Mbaaah, minta duit, mbaaaah….! Anak perempuan itu terus mengulang-ulang ucapannya sampai ia menghilang ke sisi panggung. Intensitas kekerasan hidup seperti batu dipukul itu menemukan penguatan maknanya saat berbenturan dengan suara anak kecil itu.

Musik blues pengiring pertunjukan ini sangat berperan membangun suasana keperihan dan menjaga tempo pertunjukan. Tata cahaya, sebenarnya, sudah cukup efisien dalam mencuatkan dimensi ruang penceritaan seperti tergambar di awal pertunjukan. Tapi disana-sininya, kuat-lemah intensitasnya terasa kurang diperhitungkan. Terutama untuk penggunaan warna-warna merah yang menerpa tubuh perempuan-perempuan yang sedang menggoreng kerikil itu. Itu menimbulkan efek kelelahan mata. Mata bekerja lebih keras untuk menangkap objeknya. Pencahayaan ruang di adegan itu memperoleh beban berlebih dari warna-warna dengan intensitas rendah. Keterbukaan dan kejujuran ekspresi pemain yang bergerak intens itu tereduksi oleh cahaya semacam itu.

Di bagian akhir, ada tembang Jawa dan nyanyian blues bersahut-sahutan di antara dentam palu di atas batu. Ini membersitkan dua kebudayaan berhadap-hadapan, saling isi-mengisi dalam kehidupan yang keras. Tidak ada yang dominan. Kedua-duanya diposisikan sama. Ini momen estetik yang bagus. Nyanyian blues, tembang Jawa, irama keras kehidupan itu bersahut-sahutan hingga akhir pertunjukan.

Secara keseluruhan, pertunjukan ini memiliki ekspresi yang kuat. Penderitaan ibu tersampaikan. Seluruh pemain intens dalam bermain. Gejolak batin yang mereka rasakan dalam pengalaman tubuhnya itu mengalir ke permukaan wajah, gerak, suara, tanpa terasa ada keterpaksaan.

Jakarta, 9 Desember 2015

Foto-foto oleh Dyan S. Indriyani

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *