TEATER TEMA

Catatan Pengamat: TEATER TEMA

TEATER TEMA
Lakon: Mega-Mega
(Karya: Arifin C. Noer)
Sutradara: M. Djunaedi Lubis
8 Desember 2015 | pukul: 14.00 | Panggung Teater Kecil
oleh: Azuzan JG

Naskah ini memotret fenomena masyarakat kecil yang penuh mimpi untuk beranjak dari kemiskinannya. Di sebuah taman di dekat keraton ada sekelompok manusia menjalankan kehidupannya di sana. Mereka tidur di udara terbuka, di bawah sebuah pohon beringin besar. Ma’e, seorang wanita tua yang dianggap sebagai ibu oleh orang-orang yang hidup di situ, memperlakukan mereka seperti anak-anaknya sendiri. Di tempat itu ada Retno–pelacur, Hamung–pemulung, Panut–copet, Tukijan, dan Koyal, seorang pemimpi. Suatu malam di bawah sinar bulan, Koyal bermimpi dapat lotre. Ia mengajak semua orang untuk mengembara dalam alam impiannya itu.

TEATER TEMA

Teater Tema

Peristiwa-peristiwa menarik yang menjadi kekuatan naskah Arifin C. Noer ini adalah, saat tokoh-tokohnya menjelajahi ruang-ruang mimpi itu. Disaat itu terjadi transformasi tokoh-tokohnya dari satu situasi ke situasi berikutnya. Hal-hal yang selama itu hanya merupakan impian, mereka wujudkan tanpa halangan. Akhirnya mereka kembali ke realitas. Hidup yang keras. Tukijan mengajak Retno transmigrasi. Koyal terlempar semakin jauh ke dunia mimpi yang mengerikan. Mae sendirian di taman itu, kembali menimang-nimang boneka, yang dalam dunianya itu seperti adalah benar-benar anaknya. Manusia yang lari dari realitasnya.

Musik pembuka pertunjukan berirama pop. Ini adegan pembuka setelah gong tiga. Retno bernyanyi di bawah sinar lampu taman. Lagu Jawa. Menginformasikan wilayah geografis penceritaan yang dicirikan oleh bahasa. Di pembukaan adegan ini sekaligus memperlihatkan setting pertunjukan. Sebuah pohon besar berdiri kokoh di bagian kiri panggung. Batang pohon itu digambarkan begitu besarnya hingga puncaknya melampaui para-para. Akar-akar gantung pohon itu dijuntaikan ke bawah. Seakan-akan seluruh panggung dinaungi pohon itu. Di bagian pangkal pohon diberi pagar seolah-olah itu tembok pendek berketinggian ½ meter. Daun-daun kering berserakan di lantai, ingin memperkuat suasana kehidupan di bawah pohon. Sebuah lampu taman di kanan panggung menerangi tempat itu. Di bagian tengah, ada tikar digelar dengan berbagai kotak kayu dan benda-benda plastik diatasnya.

Para pemain untuk pertunjukan ini tampak sudah berusaha maksimal untuk hidup dalam berbagai situasi-situasi yang dialami tokoh-tokohnya. Bahasa Indonesia berdialek Jawa yang menekankan wilayah penceritaan, coba mereka mainkan dengan baik. Konsentrasi untuk memasuki wilayah antropologis tokoh ini tidak diimbangi untuk memasuki wilayah psikologis dari setiap karakter-karakternya. Hubungan antar karakter tidak terbangun sampai ke wilayah dalam dari perannya. Hubungan-hubungan yang tampak itu lebih eksternal sifatnya. Perkembangan ruang tidak diikuti perkembangan permainan para aktor-aktornya

Dan ini terasa aneh. Di tengah pertunjukan tiba-tiba lampu auditorium nyala sekejap. Penonton bertatap-tatapan sejenak. Perhatian dipecah. Ini sebuah kecelakaan dalam pencahayaan atau kesengajaan? Apakah lampu auditorium nyala sebentar itu untuk mengalihkan perhatian, untuk membuat pukau panggung memfokus? Itu terasa dipaksakan.

Hal yang ingin ditawarkan kelompok teater ini melalui pertunjukan, adalah tentang perlakuan para pemainnya menyulap ruang-ruang bermain dengan menyusun kotak kotak kayu yang semula memagari pohon. Kotak kotak itu dipereteli, kemudian dibangun menjadi ruang-ruang bermain yang baru. Membongkar pagar pohon dan membentuknya menjadi bangunan-bangunan ruang yang lain itu, seperti mempereteli realitas dan membangunnya menjadi realitas lain (realitas mimpi). Mimpi-mimpi Koyal dalam pementasan ini coba diwujudkan, di real kan. Kotak-kotak kubus berbagai bentuk itu disusun membentuk ruang-ruang: Bank, Warung, Toko, dan Keraton. Tapi itu tidak membantu. Perwujudan ruang-ruang itu, mewujudkan mimpi-mimpi itu, justru menempatkan posisi mimpi menjadi tidak tragis. Adegan-adegan terasa berjalan lamban.

Jakarta, 9 Desember 2015

Foto-foto oleh Dyan S. Indriyani

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *