Pengantar Kuratorial

Festival Teater Jakarta 2016
<TRANS>-<ISI>

Dunia teater di Jakarta, tak terkecuali di kota-kota lain di Indonesia, adalah dunia remaja. Kaum remaja membutuhkan sarana untuk mengembangkan bakat seni mereka dan teater adalah bidang yang cocok untuk itu. Teater juga bisa dilihat sebagai adalah wadah bagi remaja yang “kelebihan energi” agar mereka tidak menyimpang ke hal-hal negatif. Ketika pada 1971 muncul gagasan untuk menyelenggarakan semacam festival teater, alasan utamanya adalah pertumbuhan yang menggembirakan sekaligus mencemaskan kelompok-kelompok teater remaja di Jakarta. Ada sejumlah kelompok teater remaja yang tumbuh tetapi tidak ada festival tetap yang mempertemukan mereka. Tidak ada kompetisi dan pembinaan untuk meningkatkan mutu mereka. Karena itu sejumlah seniman dan pekerja teater mengimbauan agar Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), selaku mitra Gubernur DKI Jakarta dalam penyelenggaraan kesenian di Jakarta, mengambil alih tanggung jawab itu.

Menanggapi imbauan ini, setidaknya, DKJ melakukan dua hal. Pertama, menyelenggarakan sayembara menulis naskah drama pada 1972 yang berhasil menghimpun 46 naskah—sementara Sayembara Mengarang Roman baru diadakan dua tahun kemudian. Dengan sayembara ini DKJ memiliki Bank Naskah Sandiwara yang lumayan banyak koleksinya. Belum lagi jika ditambah dengan hasil program penerjemahan naskah teater asing ke bahasa Indonesia yang dilakukan di tahun-tahun kemudian.

Sayembara ini sebenarnya juga didorong oleh semacam kesadaran akan pentingnya “kepribadian nasional” dalam penulisan naskah teater. Bahwa para pekerja teater tidak boleh melulu bergantung kepada naskah-naskah teater asing—sebagaimana jamak terjadi pada generasi Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) sepanjang 1950-1960-an. Mereka harus menghasilkan naskah-naskah teater dengan corak Indonesia. “Melawan atau mengimbangi pengaruh kebudayaan asing tidak bisa melalui teriakan dan prasangka. Dia harus dilawan dengan usaha dan perbuatan yang positif,” tulis Wahyu Sihombing, Ketua Komite Teater DKJ saat itu.

Namun, banyaknya naskah drama yang dihasilkan itu tidak akan banyak berarti jika tidak dipentaskan oleh kelompok-kelompl teater bermutu baik. Salah satu cara untuk merangsang kelahiran kelompok-kelompok teater seperti itu adalah dengan menyelenggarakan festival teater. Karena itu, inilah upaya kedua, DKJ menyelenggarakan Festival Teater Remaja (FTR) pada September 1973 yang diikuti oleh 110 kelompok teater di lima wilayah DKI Jakarta. “Bank Naskah Sandiwara ini harus didukung oleh group-group teater yang baik. . .Dan ini pulalah yang ingin dikejar dan dicapai dengan Festival Teater Remaja ini,” tambah Wahyu Sihombing.

Soal lain yang ingin dijawab dengan penyelenggaraan FTR ini adalah keperluan memilih kelompok-kelompok teater bermutu baik untuk bisa tampil di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ-TIM). Sebelum FTR digelar, DKJ telah melakukan pembinaan terhadap dua kelompok teater senior (Teater Populer dan Teater Kecil) dan enam kelompok teater remaja. Setiap tahunnya empat kelompok teater senior secara aktif mementaskan karya mereka di TIM—dua dari mereka datang dari luar Jakarta (Bengkel Teater Yogyakarta dan Studiklub Teater Bandung). Tetapi kuota ini dianggap belum memadai. Dalam hitungan Wahyu Sihombing, setiap tahunnya Jakarta memerlukan tak kurang dari 20 kelompok teater untuk tampil di gelanggang-gelanggang remaja dan TIM.

FTR pada akhirnya menjadi program yang penting bukan hanya untuk menjaga keberlangsungan kelompok-kelompok teater remaja di Jakarta tetapi juga untuk meningkatkan mutu mereka. Dalam setiap kali penyelenggaraan, tidak kurang dari 100 kelompok teater mengikuti festival ini. Kelompok teater yang menang tiga kali akan mendapatkan predikat “senior” dan berhak mendapatkan dana pembinaan dan kesempatan pentas di TIM. Festival ini juga berhasil menumbuhkan budaya menonton teater di kalangan remaja Jakarta, dari gratis menjadi berbayar.

Hingga1984, FTR menghasilkan sembilan kelompok teater “senior”. Artinya, mereka telah menang tiga kali, mendapat dana pembinaan dari DKJ dan tidak boleh lagi mengikuti festival. Kemunculan kelompok-kelompok teater senior ini memantik optimisme terkait regenerasi dalam dunia teater di Jakarta. “Kalau Arifin atau Teguh Karya tidak lagi muncul, kita juga tidak perlu bingung lagi,” kata Wahyu Sihombing, sebagaimana dikutip Kompas, setelah penutupan FTR ke-8 1981.

Yang juga penting pada perkembangan setelah satu dasawarsa pertama FTR adalah perubahan nama, dari Festival Teater Remaja menjadi Festival Teater Jakarta (FTJ) pada 1984. Perubahan nama ini sedikit banyak berkaitan dengan upaya memberi citra yang lebih serius kepada festival ini, bahwa FTR bukan sekadar wadah remaja dalam menyalurkan bakat seni tetapi sebuah peristiwa teater yang memperlihatkan keseriusan, kerja keras, komitmen dan mutu yang baik. Rendra adalah salah seorang juri yang sempat mempermasalahkan istilah “remaja” pada festival ini. “Saya tidak menganggap mereka sebagai remaja, karena mereka jauh lebih tua dari pada ketika saya memulai karir sebagai seniman dulu. Lagi pula mutu seni mereka sudah cukup pantas untuk diperhitungkan secara bersungguh-sungguh,” kata Rendra dalam catatannya mengenai FTR ke-10 1982.

Kendati demikian, perubahan dari FTR menjadi FTJ tetap menyisakan sejumlah masalah. Di akhir festival dewan juri selalu mempersoalkan yang kurang lebih sama: wawasan sutradara (baik yang terkait naskah maupun mutu pemanggungan), manajemen organisasi, nasib pemenang-pemenang festival terkait dengan perkembangan teater di Jakarta. Yang juga tak jarang dikeluhkan adalah rutinitas festival. Yang terakhir ini memberikan beban bukan hanya kepada peserta festival tetapi juga penyelenggara (DKJ dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan). Pertanyaan dasarnya sama: bagaimana menyiasati rutinitas ini.

Masalah-masalah ini memang telah coba dipecahkan dalam penyelenggaraan FTJ di tahun-tahun kemudian. Untuk merangsang peningkatan wawasan sutradara dan mutu pertunjukan, sempat pula diselenggarakan semacam “penataran” bagi para sutradara pemenang FTJ—di samping uraian evaluasi dewan juri yang sangat kritis. Serangkaian lokakarya tematik festival dan penyutradaraan juga sempat diselenggarakan di sejumlah gelanggang remaja menjelang babak final FTJ. Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah DKJ mengambil alih penyelenggaraan babak final FTJ pada 2006, DKJ mengancang tema tertentu dan berbeda untuk babak final FTJ. Dengan tema terpilih ini DKJ berusaha agar babak final FTJ terlihat lebih fokus, meski bungkusan tema besar itu belum banyak memengaruhi kelompok-kelompok teater di babak penyisihan. Tujuan utama dari semua upaya itu adalah meningkatkan mutu kelompok-kelompok teater di Jakarta agar dengan peningkatan mutu itu mereka bisa lebih maju dan berkelas, di samping memberi warna baru di setiap kali penyelenggaraan FTJ.

*

Kini FTJ berusia 43 tahun—secara usia ia boleh dibilang telah dewasa. Sepanjang hampir empat setengah dasawarsa, festival teater ini telah mengalami sejumlah perubahan—di samping hal-hal yang bersifat tetap: kompetisi dan pembinaan. Sebagai festival teater tertua di Indonesia—mungkin juga di Asia Tenggara—ia perlu ditimbang kembali. Sejumlah pertanyaan kritis bisa diajukan: Bagaimana posisi FTJ di tengah konstelasi perteateran di Jakarta dan Indonesia? Apa sumbangsih penting FTJ bagi perkembangan teater di Jakarta? Sekadar melahirkan dan membina para jawara teater atau bisa berkembang lebih luas dari itu? Bagaimana mestinya watak festivitas FTJ? Bagaimana FTJ berkontribusi terhadap upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menjadikan Jakarta sebagai kota seni budaya bertaraf internasional?

Kenyataan-kenyataan yang harus dihadapi sejak awal penyelenggaraan FTJ adalah bahwa kompetisi dan pembinaan ini ditujukan untuk kelompok-kelompok teater (remaja dan amatir) di Jakarta. Sementara, di luar FTJ, telah berkembang kelompok-kelompok teater yang lebih senior maupun yang tumbuh tidak melalui jalur festival. Bahkan, belakangan ini FTJ juga mesti berhadapan dengan festival-festival teater lainnya di Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia. Dengan kata lain, FTJ hanyalah sebuah pulau kecil di antara hamparan kepulauan yang ada. Bagaimana caranya agar ia tetap ada dan bermakna.

FTJ 2016 mengancang sejumlah perubahan. Dengan tema utama “Transisi”—yang ditulis dengan gaya bahasa pemrograman komputer menjadi <TRANS>-<ISI>—FTJ kali ini mencoba menempatkan dirinya dalam konteks penting perubahan masa kini, baik di Jakarta maupun di tingkat nasional dan global. Yang segera terlihat adalah betapa beragamnya medan teater di Jakarta. Produksi teater di Jakarta bukan melulu apa yang dihasilkan FTJ, tetapi juga festival-festival teater lainnya yang diselenggarakan dengan konsep dan tema tertentu. Bahkan, kemunculan drama musikal, teater tari, teater multimedia/kolaborasi hingga pertumbuhan teater tradisional di Jakarta memberikan alternatif penting bagi Festival ini.

Transisi juga bermakna perubahan dari festival teater yang bersifat kompetisi, menjadi festival yang benar-benar festive, dalam artian suasana festival yang meriah dengan beragam bentuk pementasan, diskusi, lokakarya dan bazaar. Sebuah festival yang mencoba mengakomodasi perkembangan seni-seni lain demi memperkaya bentuk-bentuk pementasan, termasuk dengan mengundang kelompok-kelompok teater dari luar negeri. Juga festival yang mencoba memperluas jangkauannya ke luar lingkungan TIM sebagai pusat kesenian, di samping menawarkan panggung bagi peserta dari yang konvensional (prosenium, arena, dalam ruangan) ke non-konvensional (halaman, luar ruangan).

Begitulah, FTJ kali ini mencoba mengubah warna festivalnya. FTJ 2016 tidak melulu menampilkan para finalis dari lima kota administratif di DKJ Jakarta, tetapi juga menampilkan kelompok-kelompok teater dari produk festival di luar FTJ, baik dari khazanah tradisi maupun modern. Enam belas finalis akan tampil di Sayap Utama, sementara kelompo-kelompok teater undangan akan tampil di Sayap Klasik (Sandiwara Sunda Miss Tjitjih, Wayang Orang Bharata, Lenong Denes, Sahibul Hikayat), Sayap Perspektif (kolaborasi seniman di pembukaan, MuDA Hyperperformance dari Jepang di penutupan), Sayap Tamu (Padepokan Seni Madura, Jaring Project, Artery, Sena Didi Mime). Selain produksi pertunjukan, FTJ kali ini juga menyajikan sejumlah lokakarya dan diskusi. Mulai dari lokakarya multimedia, fotografi pertunjukan, peliputan seni pertunjukan hingga metodi riset. Sementara diskusi tentang biografi penciptaan, tantangan estetika masa kini, arsip teater hingga pembacaan kuratorial. Selain itu masih ada penerbitan jurnal FTJ, forum kafe aktor, pasar seni dan pameran buku.

Apa yang dipahami sebagai “transisi” dalam FTJ kali ini mesti diuji berkali-kali. Paling tidak, ia tidak boleh berhenti kali ini saja. Pada akhirnya transisi itu juga menyangkut sikap dan komitmen DKJ, khususnya Komite Teater, untuk terus menghidupkan FTJ dengan kualitas yang makin baik dan menjangkau publik yang lebih luas dan beragam. Ke depan, FTJ juga mesti menjadi barometer perkembangan teater, bukan hanya di Jakarta tetapi juga di Indonesia. Itulah mengapa secara perlahan-lahan watak internasional festival ini mulai diperkuat. Semoga yang terakhir ini bisa menjadi daya tarik kota Jakarta yang mengancang dirinya sebagai sebagai kota seni-budaya bertaraf internasional.

Fetival Teater Jakarta 2016
Kurator/Dewan Juri

Autar Abdillah
Dindon W.S.
Gandung Bondowoso
Nirwan Dewanto
Zen Hae